Sabtu, 31 Januari 2026

"Kisah Di Balik Lukisan"

      Sumber gambar : Pinterest


Cuaca di sabtu petang itu memang tidak begitu cerah, namun Arman tetap datang ke Taman Puspita yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya, ditemani Arni, adik semata wayangnya yang kerap menemani dan membantu mendorong kursi roda Arman. Sejak Arman beranjak pulih dari operasi karena peristiwa kecelakaan yang dialaminya tiga bulan lalu, ia dan Arni sesekali mendatangi taman itu untuk sekedar mengamati suasana, bercengkrama dengan anak-anak kecil yang bermain di taman, atau melukis yang merupakan hobinya sejak kecil.

“Ini papan kanvas dan alat lukisnya, kak” ucap Arni memecah lamunan Arman yang tengah mengamati anak-anak kecil yang sedang asyik bermain di taman tersebut.

“Oh.. iya, makasih de” jawab Arman sambil tersenyum.

“Hari ini, apa yang akan kakak lukis?” tanya Arni penasaran. Tapi Arman hanya menjawabnya dengan senyuman sambil menunjuk tempat duduk dari batang pohon di sudut taman. Arni mengernyitkan dahinya, baginya tak ada obyek menarik di sudut taman itu.

“Lihat saja nanti, kamu juga bakalan tau kok, apa yang kakak lukis”.

“Baiklah”, jawab Arni sambil duduk di bangku taman yang berada dekat kursi roda Arman, lalu meneguk minuman yang dibekalnya dari rumah. 

Melihat kakaknya yang mulai sibuk menggoreskan kuas lukisnya di kanvas, Arni beranjak dari tempat duduknya, menuju sekumpulan anak kecil yang sedang bermain di taman. Ia ikut bercengkerama dan bermain bersama mereka.

Tak lama, Arni kembali mendekati Arman, lalu melihat lukisan kakaknya yang belum rampung. Namun Arni sudah bisa menerka-nerka apa yang Arman lukis.

“Kak.., itu Liani ya?”, tanya Arni sambil menyimak lukisan Arman. Arni adalah salah seorang anak yang selama ini sering bercakap dan bersenda-gurau dengan Arman setiap kali berkunjung ke taman itu. Ia suka sekali dengan gadis kecil itu. Selain lincah dan ceria, Liani adalah anak yang cerdas. Arman senang sekali mendengarkan obrolannya dengan gaya khas yang seringkali membuatnya tersenyum, bahkan kadang tertawa bersama. 

“Yes, kamu memang jeli, de. Meskipun belum beres, kamu sudah bisa menebaknya”.

“Tapi kenapa kakak melukis dia seperti itu?”  tanya Arni lagi. Sekarang Arman yang mengernyitkan dahi karena pertanyaan adiknya.

“Apanya yang aneh sih de, ini kan memang Liani, mungkin karena lukisannya belum sempurna aja”.

“Bukan gitu kak, maksudku kenapa kakak melukis dia dengan ekspresi yang sedih seperti itu. Lagipula, sejak tadi aku gak melihat.....”

Belum selesai Arni melanjutkan ucapannya, tiba-tiba ia melihat bu Indri, ibunda Liani yang biasa menemani anaknya itu saat bermain di taman. Ia menghampiri Arman dan Arni.

“Nak Arman, nak Arni, apa kabar kalian? Oh ya, gimana kondisi nak Arman sekarang? kelihatannya sudah membaik yaa”, sapa bu Indri.

“Iya bu, saya sudah lebih baik. Ibu mau menjemput Liani ya?”

Belum sempat bu Indri menjawab pertanyaan Arman, bu Indri melihat hasil lukisan Arman seraya terlihat agak terkejut. Matanya berkaca-kaca.

“Bu.. ibu gak apa-apa, kan?”, tanya Arman dengan rasa khawatir bercampur heran.

“Oiya.. Liani selalu membuat saya kagum lho bu, dia gak cuma cerdas, tapi juga kocak. Dia selalu bikin saya terhibur. Tapi saya heran, kenapa hari ini dia gak bergabung bersama teman-temannya yang biasa bermain dengannya. Dan kenapa dia juga gak menghampiri saya yaa.. makanya saya lukis dia saja dari sini, waktu dia sedang duduk di bangku taman sendirian tadi”, jelas Arman sambil menunjuk ke arah sudut taman yang ternyata kini tak ada siapapun yang duduk disana. Arman melihat sekeliling taman, ada beberapa anak yang masih bermain, namun ternyata pandangannya tak menemukan Liani di sana. "Nah, sekarang dia kemana yaa?".

Bu Indri langsung menyahut. “Nak Arman, Liani sudah tiada sejak tiga hari yang lalu. Saya datang kesini untuk membagikan kue kesukaan Liani kepada teman-teman bermainnya di taman ini, di hari ulang tahunnya yang tepat di hari ini. Itu yang sering Liani lakukan dulu dan itu juga pesan terakhirnya menjelang ia menghembuskan nafas terakhirnya".

Arman sangat terkejut. Hampir tak bisa berkata-kata. 

Sambil terbata-bata, ia berucap, “Jjja jjadi... gadis kecil yang tadi saya lihat duduk di bangku taman itu.....?”

Bu Indri, Arman dan Arni saling berpandangan sambil terheran-heran.